[REVIEW] Undertale - Salah Satu RPG Favorit Saya



Kalau kamu yang biasa memainkan judul-judul RPG Encounter, kamu pasti mengenal judul-judul mainstream seperti Earthbound dan Zelda. Kedua game tersebut merupakan game RPG yang saya sukai, namun hal tersebut berubah ketika saya mulai bermain Undertale ini. Ciri khas monumental yang menghiasi jenis game tersebut adalah cerita dan grinding battle. Hampir tidak ada RPG dengan jenis ini yang lupa menyisipkan bahan utama tersebut. Bahkan, tidaklah berlebihan bila dikatakan cerita merupakan nyawa dari genre RPG sendiri. Namun, karena hal ini pula genre tersebut mengalami generalisasi yang begitu pekat, sampai sangat sulit untuk mencari RPG berjenis Encounter yang memiliki nuansa permainan berbeda. Sebagai informasi, RPG berbasis Encounter tidak memperlihatkan musuhnya di layar, melainkan melalui momen “kaget” ketika pemainnya mendadak dibawa ke layar pertarungan.

Dunia Lain

 

Storyline dari game ini berputar pada sejarah perang antara manusia dengan monster. Perang tersebut berakhir dengan kemenangan manusia dan terbuangnya bangsa monster ke dalam jurang di perut Bumi. Setelah waktu yang sangat lama, keberadaan mereka telah dilupakan oleh manusia, hingga satu saat seorang anak jatuh ke dalam lubang yang menghubungkan dunia atas dengan dunia bawah. Anak bernama “Momon”, yang namanya dapat Anda ubah sendiri sesuka hati ketika permainan dimulai, sebenarnya bukan anak spesial dengan kekuatan unik. Namun, di dunia monster, manusia terlemah pun memiliki arti spesial.

Battle-System yang Menarik 

Kekuatan Undertale tidak berhenti pada cerita belaka. Unsur pertarungan juga menjadi perhatian yang besar dalam game ini. Namun, bukan dalam arti Anda akan terus menerus dibuat mengulang pertarungan di daerah yang sama hingga merasa bosan. Hal ini lumrah terjadi pada RPG bergenre Encounter demi mendapatkan karakter yang kuat dari sisi Level. Undertale melihatnya dari sisi yang cukup unik dan menarik serta tidak luput memberikan hiburan di dalamnya.

Latar Retro yang Nostalgik


Bila dilihat dari permukaan saja, game ini sekilas sama saja dengan game sejenis dengan judul berbeda. Apalagi game ini menggunakan tampilan yang sangat “retro”, yaitu grafis 2D di tahun ’80-an yang didominasi oleh pixel besar dan warna tanpa shading. Jadi dari sisi tampilan belaka, game ini sama sekali tidak menarik minat gamer yang memuja tampilan grafis 3D. Namun, Undertale menyimpan permatanya di dalam permainannya sendiri. Bukan hanya ia mampu menampilkan cerita yang berani, tetapi juga mampu menghibur pemainnya melalui beragam momen jenaka. Kebetulan saya sendiri penggemar berat komedi barat yang kebetulan sangat kental di game ini.


Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment